TOKOH MODERNISASI ISLAM “ SYEKH MUHAMMAD ABDUH” by Alimuddin Al-hakim (Muslim Negarawan)

A.    Riwayat Hidup Muhammad Abduh
Muhammad Abduh dilahirkan pada tahun 1849 M (1265 H) di Mahallah Nasr, suatu perkampungan agraris termasuk Mesir Hilir di propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bemama Abduh bin Hasan Chairullah seorang berdarah Turki, sedangkan ibunya Yatimah binti Utsman al-Kabir mempunyai silsilah keluarga besar keturunan Umar Ibn al Khatab. Pendidikan menulis dan membaca dijalani dalam lingkungan keluarga. Setelah usia 10 tahun sang ayah mengirimnya untuk belajar al-Qur’an di Masjid Ahmadi kota Thanta yang terkenal mempunyai spesialisasi dalam kajian Qur’an. Karena kecewa dengan metode yang hanya mementingkan hafalan saja, tidak diikuti dengan pemahaman, maka ia memutuskan untuk pulang kembali ke Nasr. Namun, berkat dorongan orang tua dan bimbingan dari Syeikh Darwisy, paman ayahnya, Muhammad Abduh mulai tertarik mengkaji disiplin keislaman, dan juga kembali belajar di Thanta.[1]

Kekecewaannya dengan metode yang hanya mementingkan hafalan saja dan tidak diikuti dengan pemahaman juga dirasakannya ketika belajar di Universitas Al-Azhar di Cairo tahun 1866. Setelah kembali berkonsultasi dengan Syeikh Darwisy, Muhammad Abduh disarankan untuk mempelajari disiplin ilmu lain yang tidak diajarkan selama ini seperti logika, matematika dan filsafat. Lewat salah seorang ulama bernama Hasan at-Thawil, Muhammad Abduh diperkenalkan ilmu-ilmu tersebut, sesuatu yang masih sangat jarang dipelajari orang waktu itu. Melalui kajian-kajian demikian inilah yang sangat membantu pengembangan berfikir Muhammad Abduh.

 Pengaruh intelektual paling besar pada Muhammad Abduh terjadi setelah ia bertemu Sayyid Jamaluddin al-Afghani (1839-1897M) yang datang ke Mesir pada tahun 1871M Muhammad Abduh sangat antusias mengikuti kuliah dan ceramah-ceramah yang diberikannya. Secara pribadi Muhammad Abduh banyak belajar dari al-Afgani terutama dalam bidang filsafat, logika, ilmu kalam serta wawasan sosial politik.[2]

Pada tahun 1877 ia berhasil lulus dari Al-Azhar dengan mendapat gelar kesarjanaan 'alim, suatu prestasi yang memberikan hak untuk mengajar di Universitas ini. Karena perbedaan pendapat dengan para pengujinya, kelulusan Abduh harus melalui keterlibatkan Rektor yang waktu itu dipegang oleh Syeikh Muhammad al-Abbasi. Keputusan Rektor ternyata meluluskannya dan dengan diberi peringkat darajah al-tsani (amat baik).[3]


[1] . Seperti yang diceritakannya sendiri dalam biografinya, Madzakirat al-Imam Muhammad Abduh, diedit dan ditahqiq oleh Thahit Thanahi (Cairo: Dar al-Hilal, t.t.), hal : 30-31
[2] . Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal : 60-61
[3] . Muhammad Imarah. Al-A’mal al-Kamilah II al-Imam Muhammad Abduh, jilid III (Beirut al-Muassasah
al-Arabiyah II al-Dirasah wa al-Nasyr, 1972), hal : 15-22.

 Selain mengajar mata kuliah ilmu kalam dan logika di al-Azhar, Muhammad Abduh juga diangkat sebagai Dosen tetap di Universitas Dar-al-Ulum dan perguruan Bahasa Khedevi pada tahun 1879. Disini ia mengajar ilmu kalam, sejarah ilmu politik dan kesusasteraan arab. Dalam mengajar Muhammad Abduh menggunakan metode diskusi untuk mempercepat proses transformasi intelektual para anak didiknya.

 Selain penguasaan ilmu pengetahuan, Abduh juga menekankan para mahasiswanya agar tanggap terhadap situasi sosial-politik yang sedang berkembang dan kalau perlu mengoreksi terhadap penyimpangan yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Akibatnya Abduh diberhentikan oleh Taufiq Pasha dari tugas mengajar di dua perguruan tinggi pemerintah tersebut serta dipulangkan ke desa tempat kelahirannya.

 Pada tahun 1880, oleh Perdana Menteri Riyadh Pasha, ia diangkat sebagai salah seorang Redaktur surat kabar pemerintah, Al-waqai’ al-Mishriyyah, tidak lama kemudian dia dipercaya untuk menjadi Editor In Chief (ketua editor).[1] Muhammad Abduh juga memasuki gelanggang politik dan aktif dalam Partai Nasional Mesir (Al-Hizb al-Wathan) yang didirikan oleh Jamaluddin al-Afghan, yang berhasil mengobarkan semangat nasionalisme meski telah diusir dari Mesir sejak 1879. Karena keterlibatannya dalam pemberontakan Ahmad Urabi Pasya pada tahun 1882 yang gagal, Abduh dibawa ke pengadilan dan akhirnya harus tinggal di Beirut (Syiria) sebagai hukuman pengasingan selama 3 tahun.

Hidup dipengasingan semakin memberi kesempatan bagi Abduh untuk berhubungan secara intens dengan Jamaluddin al-Afghani yang ketika itu berada di Paris. Selain bergabung dalam organisasi al-Urwah al-Wutsqa, oleh al-Afghani, Abduh juga diajak mendirikan majalah yang juga diberi nama seperti nama organisasi itu.

 Majalah al-Urwah al-Wutsqai merupakan majalah berbahasa Arab pertama yang beredar di Eropa. Akan tetapi majalah tersebut tidak dapat berumur panjang, karena larangan pemerintah kolonial, hanya dapat terbit sebanyak 18 edisi dalam waktu delapan bulan. Nomor pertama muncul pada bulan Maret 1884 dan nomor terakhir muncul pada bulan Oktober 1884.15 Selanjutnya Abduh kembali ke Beirut dan disini memusatkan perhatiannya pada pengembangan ilmu dan pembinaan pendidikan, termasuk bukunya, Risalah al-Tauhid.

 Pada tahun 1888 Abduh kembali ke Mesir untuk diangkat sebagai hakim, dan kemudian menjadi penasehat hukum pada Mahkamah Agung tahun 1890. Selanjutnya, pada tahun 1895 menjadi anggota Dewan Pimpinan al-Azhar mewakili pemerintah. Meskipun gagasan pembaruan pendidikan Muhammad Abduh tidak mendapat tempat, namun beberapa pembaruannya dibidang administrasi cukup berhasil. Puncak karirnya adalah dikala ia diangkat menjadi Mufti besar pada 3 Juni 1899 menggantikan Syeikh Hasunah al-Nadawi. Akhirnya setelah sakit beberapa lamanya Muhammad Abduh meninggal dunia pada tanggal 11 Juli 1905. Jenazahnya dikebumikan pada pemakaman Negara di Cairo Mesir.

A.    Pemikiran Pendidikan Mauhammad Abduh
Dalam bagian ini Muhammad Abduh membagi menjadi tiga bagian diantaranya :
1)         Tujuan Pendidikan
Dalam merumuskan tujuan pendidikan, Muhammad Abduh selalu  menghubungkan antara tujuan yang satu dengan yang lainnya, baik tujuan akhir pendidikan maupun tujuan institusional. Pokok pikirannya tentang tujuan institusional pendidikan didasarkannya 
     kepada tujuan pendirian sekolah. Ia membagi jenjang pendidikan kepada tiga tingkatan, yaitu Tingkat Dasar (mubtadiin) Tingkat Menengah (tabaqat al-wusta). Tingkat Tinggi (tabaqat al-‘Ulya). Pembagian ini disesuaikan dengan tiga kelompok masyarakat di lapangan pekerjaan yang akan mereka geluti nantinya, yaitu kelompok para tukang, pedagang, petani dan yang serupa dengan mereka. Kedua adalah para pejabat yang mengatur urusan negara, mengelola kemaslahatan masyarakat serta memeliharanya, seperti panglima angkatan bersenjata pengadilan beserta pegawainya dalam berbagai golongan. Ketiga adalah golongan para ulama, pemimpin masyarakat dan ahli pendidikan seperti guru dan lainnya.

 Dilihat kepada tujuan pendidikan yang dirumuskan Muhammad Abduh dapat dikatakan, bahwa ia sudah merancang suatu tujuan yang baru yang belum ada pada waktu itu. Tujuan pendidikan agama yang berorientasi pada pencapaian kebahagiaan akhirat melalui pendidikan jiwa dirobah oleh Muhammad Abduh dengan menambah orientasinya kepada mencapai kebahagiaan di dunia melalui pendidikan akal

Oleh karena itu Muhammad Abduh sangat mengutamakan pendidikan akal bagi umat Islam dan khususnya anak didik. Tanpa adanya akal yang terdidik tidak akan bisa mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bahkan Muhammad Abduh mengatakan, bahwa peningkatan daya akal merupakan salah satu pempembinaan budi pekerti mulia yang menjadi dasar dan sumber kehidupan serta kebahagiaan bangsa.

Selain pendidikan akal, Abduh juga menekankan pentingnya pendidikan jiwa, atau pendidikan moral spiritual, yaitu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak didik, agar mereka mau mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat.

Pendidikan jiwa itu penting karena jiwa memiliki tugas yang berbeda dengan akal. Akal dididik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dengan tujuan agar anak memperoleh sesuatu yang berguna, sedangkan jiwa dididik untuk memperoleh moral yang mulia, dengan demikian ia dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Menurut Muhammad Abduh kedua unsur pokok diatas harus sama-sama berpengaruh untuk mencapai kebahagiaan. Sebagaimana dikatakannya juga, orang tidak akan mendapatkan ilmu yang hakiki kalau dirinya tidak dihiasi dengan akhlak yang mulia.

2)         Kurikulum Pendidikan
Muhammad Abduh merumuskan kurikulum berdasarkan tingkatan-tingkatan, yaitu tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Pengorganisasian didasarkan pada pembagian manusia sesuai dengan lapangan pekerjaan yang akan mereka geluti. Berdasarkan lapangan kerja tersebut ia mencoba merencanakan kurikulum pendidikan pada setiap tingkat pendidikan tertentu, agar setelah anak didik selesai mengikuti jenjang pendidikan tersebut ia dapat melaksanakann tugasnya sesuai dengan tuntutan agama Islam dan perkembangan zaman
Dalam penyusunan materi ini ia selalu merujuk kepada tujuan pendidikan yang titik sentralnya untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam ke arah pengembangan yang seimbang antara akal dan jiwa guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun materi kurikulum yang ditawarkannya adalah Akidah Islam, Fiqh dan Akhlak, dan Sejarah 

Akidah Islam yang disajikan berupa ringkasan akidah Islam yang disepakati oleh Ahl-assunnah, bukan akidah yang mengandung kontradiktif antara golongan. Penyajian pelajaran harus berdasarkan kepada al-Qur’an dan hadis. Selain akidah Islam sebagai perbandingan diajarkan pula akidah Kristen beserta kekacauan dan kesamaran ajarannya. Dengan cara demikian diharapkan anak didik dapat tumbuh keyakinannya terhadap kebenaran ajaran Islam dan menolak ajaran Kristen.

Tujuan pembelajaran akidah Islam Menurut Abduh adalah;
 Pertama: untuk menghindari terjadinya perbedaan akidah umat Islam. Terutama bagi masyarakat awam. Tujuan tersebut dapat dilihat dari pokok bahasan yang dikemukakannya yaitu, mengajarkan akidah menurut versi ahl-as-sunnah. Agaknya dijadikannya akidah ahl-as-sunnah sebagai pelajaran dasar, karena akidah tersebut dianut oleh mayoritas masyarakat muslim di Mesir. Ditekankannya akidah tersebut bagi anak didik tingkat dasar, karena pada tingkat dasar mereka belum banyak mempunyai ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisa, sehingga kalau diajarkan akidah yang diperselisihkan oleh ulama mereka akan bingung dan bimbang dalam menyakini akidah Islam, disamping dikhawatirkan akan munculnya perpecahan keyakinan yang membawa perpecahan umat Islam.

Kedua dapat dilihat dari pokok bahasan berikutnya yaitu dengan mengajarkan akidah Kristen serta kekacauan dan kesamaran ajarannya. Barangkali dari materi ini Muhammad Abduh bertujuan untuk mencegah terjadinya Kristenisasi dan menanamkan kayakinan pada anak didik tentang kebenaran ajaran agama Islam, mengingat dunia Islam di penghujung abad ke XIX sudah dimasuki oleh penjajah Barat yang beragama Kristen, meskipun kedatangan mereka dengan motif ekonomi dan politik, namun secara tidak langsung motif agama akan terbawa juga. Mereka mulai mengembangkan ajaran-ajaran Kristen melalui sekolah-sekolah yang mereka dirikan.
Ketiga adalah membiasakan anak didik untuk merujuk kepada sumber asli ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan hadis nabi. Dengan membiasakan mereka untuk melihat sesuatu kepada sumber aslinya, maka untuk masa selanjutnya mereka tidak akan terikat kepada salah satu mazhab dalam memahami ajaran-ajaran yang dikandung oleh Islam. Dengan demikian, akan menjauhkan anak didik dari sifat taklid dan fanatik terhadap aliran tertentu

Materi yang kedua adalah Fiqih dan Akhlak. Pada tingkat dasar ini pelajaran fiqih meliputi masalah halal dan haram, ibadah yang asli dengan ibadah yang bid’ah serta masalah wajib dan sunat. Semua materi harus berdasarkan pada al-Qur’an, hadis dan pendapata sahabat. Dari sumber materi pelajaran fiqih diatas terlihat Muhammad Abduh tidak berpegang kepada pendapat mazhab. Dalam pelajaran akhlak diajarkan tentang akhlak terpuji dan akhlak tercela. Tujuan diajarkan materi tersebut adalah untuk menumbuhkan rasa kesadaran dari diri anak didik bahwa mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Sebagai makhluk yang diciptakan mereka diberi kebebasan dan batas-batas tertentu. Oleh karena itu mereka harus tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan yang telah ditetapkan-Nya. Jadi dengan mengajarkan materi tentang halal, haram, wajib, sunat, dalam hal fiqih, maka dengan pendidikan akhlak terpuji anak didik akan sadar bahwa dalam kehidupan ada hal-hal yang harus mereka lakukan dan ada pula larangan-larangan yang tidak boleh mereka langgar.

Sedangkan materi yang ketiga adalah Sejarah Islam. Pelajaran sejarah Islam pada tingkat ini disajikan dalam bentuk ringkasan, sehingga anak didik dapat mengerti dan tersebut memahaminya dengan baik sesuai dengan tingkat kemampuan mereka dan tingkat pendidikan yang mereka duduki.

Dalam kurikulum tingkat menengah Muhammad Abduh menawarkan beberapa mata pelajaran yang harus diajarkan pada anak didik, yaitu Ilmu logika (fann al-mantiq), dasardasar penalaran (usul an-nazari) dan ilmu debat atau diskusi (adab al-jadal), ketiga pelajaran diatas tidak dapat dipisahkan, namun sebagai dasarnya adalah ilmu logika. Namun Muhammad Abduh tidak menjelaskan apa tujuan diajarkannya ilmu tersebut. Menurut Thaib Abd. Muin, tujuan pelajaran logika adalah untuk melatih akal dengan bermacam-macam latihan dan mengadakan pembahasan sesuatu masalah dengan berbagai metode berfikir. Dengan demikian, pada tingkat menengah ini Muhammad Abduh telah memulai mengarahkan pendidikan Islam ke arah pendidikan akal, yaitu melatih anak didik atau membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang mengajak kepada berfikir kritis, dengan begitu, maka sikap taqlid yang sudah menyebar tidak akan merembes kepada anak didik sebagai generasi muda.

Untuk pelajaran Akidah Islam, materi yang diberikan hampir sama dengan tingkat dasar dan belum menjangkau perbedaan pendapat para usuliyyin. Hanya saja pada tingkat ini ditambahkan pokok bahasan tentang peranan akidah Islam dalam rangka membentuk suatu kehidupan modern tanpa meninggalkan kesejahteraan akhirat. Sedangkan pada tingkat menengah, anak didik sudah diajak mempergunakan akal dalam menganalisa sesuatu yang harus diyakini kebenarannya. Kemudian dengan mempergunakan akal, para anak didik harus bisa melihat hubungan akidah Islam dengan kehidupan modern tanpa mengorbankan ajaran agamanya. Agaknya dari materi-materi yang ditawarkan, Muhammad Abduh barharap agar anak didik nanti bisa melihat hubungan akidah Islam dengan kehidupan modern dan yakin bahwa Islam itu adalah agama untuk seluruh zaman dan untuk seluruh umat, Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pada tingkat menengah, pelajaran fiqih dan akhlak hanya memperluas materi yang diberikan pada tingkat dasar. Materi yang diberikan lebih ditekankan pada, kegunaannya, terutama dalam masalah akhlak. Misalnya, kegunaan berakhlak mulia dan pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat. Semua materi diberikan berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan menurut praktek ulama as-salaf al-shalih. Muhammad Abduh juga tidak menjelaskan apa tujuan dari pelajaran ini, cuma berdasarkan kepada pokok bahasan yang ditawarkannya, barangkali selain melanjutkan tujuan pada tingkat dasar yang telah diuraikan terdahulu, maka pelajaran ini juga bertujuan untuk membuka cakrawala berfikir anak didik terhadap ilmu agama agar mereka jangan hanya mengikuti apa yang dikatakan orang tanpa melihat kepada dalil, hikmah dan pengaruh dari ajaran tersebut. 

Dalam pelajaran Sejarah Islam, pokok bahasan yang harus diajarkan adalah sejarah kehidupan Nabi, sabahat dan penaklukan yang dilakukan dalam beberapa abad sampai pada khalifah Usmaniyah. Semua penaklukan tersebut, menurut Muhammad Abduh harus dipandang dari aspek agama, sekiranya terdapat motif politik dalam materi pelajaran sejarah Islam ini maka dibelakang motif tersebut agama.35 Muhammad Abduh tidak menjelaskan apa tujuan pokok bahasan tersebut. Barangkali ia ingin menjauhkan anak didik dari prasangkaprasangka jelek, dimana Islam mengadakan penaklukan-penaklukan untuk memperluas kekuasaan dan memperkaya diri dengan harta rampasan perang dan pajak bumi. Agaknya ia juga ingin menanamkan semangat juang yang murni dan ikhlas kepada anak didik tanpa ada embel-embel lain kalaupun ada aspek politiknya, aspek politik tersebut hanya untuk kepentingan penyebaran agama.

Sedangkan pada kurikulum Pendidikan Tinggi, Muhammad Abduh menawarkan materimateri Tafsir al-Qur’an al-Karim, Hadts, Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Pelajaran Akhlak, Sejarah Islam, Retorika dan Dasar-dasar Diskusi, dan Ilmu Kalam.
Muhammad Abduh mengatakan, di dalam al-Qur’an terdapat rahasia-rahasia kesuksesan umat Islam terdahulu. Oleh karena itu agar umat Islam sekarang bisa sukses, mereka harus mempelajari secara mendalam tentang al-Qur’an al-Karim beserta metode penafsirannya, serta ilmu-ilmu alat lain. Sedangkan dalam pelajaran hadits, Muhammad Abduh lebih menitik beratkan pembahasan tentang hadis sahih dan hadis da’if. Barangkali diajarkannya materi ini agar mahasiswa tahu mana hadis yang sahih dan mana hadis yang da’if. Dengan mengetahui hal tersebut, mahasiswa yang akan menjadi guru nantinya bisa menafsirkan al-Qur’an dengan benar sesuai dengan tuntutan hadis yang benar pula. Disamping itu mereka juga akan mampu memberikan keputusan-keputusan hukum serta petunjuk-petunjuk agama kepada murid-muridnya dan masyarakat sesuai dengan tuntutan agama

Untuk pelajaran usul al-fiqh, Muhammad Abduh menyarankan agar membaca kitab al- Muwafaqat karangan asy-syatibi.39 Kitab al-muwafaqat adalah kitab usul yang banyak membahas tentang masalah maqasid asy-syariah (darurinya, hajjiyat dan tahsiniyat). Dalam memberikan suatu keputusan hukum asy-Syattibi lebih banyak memakai teori al-masalih almursalih (melihat kepada kepentingan masyarakat). Asy-syatibi dalam menetapkan sesuatu hukum selalu merujuk kepada al-Qur’an dan hadis serta melihat kepada kebutuhan manusia yang mengalami perobahan sepanjang zaman. Dengan melihat pola fikir asy-Syatibi ini, Muhammad Abduh berharap kalau seandainya mahasiswa mau meneladani pola pikir tersebut tentu mahasiswa akan mampu menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan al- Qur’an dan hadis serta sesuai pula dengan tuntutan zaman. Dengan demikian sikap taklid dapat dihapuskan dari generasi muda Islam.

Dalam pelajaran Akhlak, Muhammad Abduh mewajibkan anak didik mempelajari kitab ihya ‘ulum ad-Din karya Iman al-Gazali. Untuk pelajaran akhlak pada sekolah tinggi ini, Muhammad Abduh juga tidak banyak komentar, hanya menyatakan bahwa untuk pelajaran akhlak mahasiswa diharuskan membaca kitab ihya ‘Ulum ad-Din Karya Iman al-Gazali.

Yang dibahas dalam pelajaran sejarah adalah sejarah kehidupan Nabi dan sahabatsahabatnya, sejarah peralihan penguasa-penguasa Islam, sejarah kerajaan Usmaniyah dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan penguasa-penguasa lain dengan menyebutkan penyebabnya, baik klasik maupun modern.

Pengajaran pelajaran Retorika dan Dasar-Dasar Diskusi dimaksudkan oleh Muhammad Abduh untuk memantapkan pemahaman dalam fikiran dan jiwa anak didik, serta dapat mengamalkan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari

Sedangkan dalam lapangan ilmu kalam Muhammad Abduh lebih menitik beratkan pembahasannya tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan perbedaan pendapat para ulama ilmu kalam berikut dalil-dalil yang dijadikan pegangan dalam mendukung pendapat mereka.

 .
3)         Metode Pendidikan

Ada dua aspek metodologi pendidikan yang banyak dibicarakan Muhammad Abduh, yaitu metodelogi dalam bentuk mikro (metode mengajar) dan bentuk makro (metodelogi sebagai satu sistem). 
Metodelogi mikro atau metode mengajar sangat berkaitan erat dengan tujuan pendidikan, dan tujuan pendidikan inilah yang dipakai oleh setiap guru sebagai petunjuk untuk memilih serangkaian metode yang efektif dalam mengajar. Menurut Muhammad Abduh, cara belajar di Thanta dan di al-Azhar, di mana anak didik dilatih untuk membaca dan menghafal kitab-kitab tertentu, yang terdiri dari matan, syarah yang ditulis oleh beberapa orang penulis, tanpa memahami akan isi kandungan. hanya mengajarkan kitab bukan mengajarkan ilmu.

Dilihat dari segi ketrampilan membaca dan hafalan metode membaca ini memang menguntungkan, karena siswa akan bisa menyerap semua materi yang diberikan. Tetapi metode ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan seperti: menghambat bakat dan inisiatif anak didik, menimbulkan verbalistis pada anak didik.

Selain memakai metode tersebut diatas ia juga mengembangkan metode latihan dan pengalaman, metode keteladanan dan cerita. Karena menurutnya anak didik perlu dilatih untuk beribadah, bahkan perlu guru harus memperagakannya di depan kelas sebagai contoh

pelaksanaan ibadah shalat. Disamping menggalakkan metode keteladanan, dalam upaya penanaman nilai-nilai moral pada guru agar perbuatan mereka dapat dijadikan panutan bagi anak didik. Oleh karena itu Muhammad Abduh memberikan kriteria yang ketat dalam pemilihan kepala sekolah dan guru. Mereka harus orang yang melaksanakan ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun sesama makluk.

Untuk mendukung metode tersebut diatas dipadukannya dengan metode cerita yaitu dengan memberikan materi sejarah tentang kisah-kisah perjalanan dan perjuangan Nabi, sahabat, tabi’in dan ulama-ulama terdahulu. Metode ini bertujuan membangkitkan semangat untuk memberikan dorongan psikologis kepada anak didik

Sedangkan metodelogi pendidikan makro dalam tulisan ini adalah metodologi pendidikan satu sistem, yaitu suatu kesatuan organisasi yang dinamis dimana antara satu sama sebagai lain saling mempengaruhi

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan merupakan satu organisasi yang terdiri dari individu-individu yang bekerja sama, saling membutuhkan. Organisasi biasanya terdiri dari pemimpin (kepala sekolah) yang beranggotakan para guru dan tenaga administrasi. Oleh karena itu selain diadakan perbaikan dan pembaharuan di bidang tujuan, kurikulum dan metode mengajar, maka organisasi pendidikan juga perlu mendapatkan perbaikan serta perobahan yang mengacu kepada pembaharuan. Muhammad Abduh sebagai seorang yang telah banyak berbicara tentang masalah pendidikan lupa merencanakan perobahan-perobahan dan perbaikan pada organisasi pendidikan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam.Dalam hal ini ada dua hal yang menjadi pusat perhatian Muhammad Abduh yaitu pimpinan sekolah dan guru.

Menurut Muhammad Abduh, seorang pimpinan sekolah harus mempunyai kepasitas pemikiran yang sesuai dengan tujuan kurikulum, memahami agama dan melaksanakan ajaran agama tersebut secara konsekwen, ahli dalam bidang ilmu pengetahuan modern, disenangi oleh masyarakat, dan harus mampu mengadakan pengontrolan dan perbaikan

Selain kepala sekolah, guru adalah komponen penting dalam sistem pendidikan(makro). Sebagaimana pada kepala sekolah, Muhammad Abduh juga menetapkan kriteria guru secara ketat. Baginya, seorang guru harus orang yang melaksanakan ajaran agama dengan baik, berakhlak dan mempunyai kemampuan mendidik, layak menangani tugas pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah digariskan tercapai, harus mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh muridnya, baik dalam aspek perkembangan kecakapan maupun keseriusannya dalam belajar, kehadiran dan akhlaknya.
  
B.       Pemikiran Muhammad Abduh dalam Tafsir

Muhammad „Abduh dalam pembaharuannya, tidak hanya terbatas memperbaiki sistem pendidikan, tetapi juga dalam bidang yang lain. Salah satu diantaranya adalah dalam bidang tafsir. Tafsir Al-Manar adalah hasil karya Muhammad „Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha mempunyai corak baru dalam tafsir. Tafsir ini menurut Al-Zahabi adalah sebuah corak baru dalam dunia tafsir. Penafsiran ayat-ayat al-Quran tidak lagi menampilkan kebiasaan lama mengalihkan manusia dari hidayah al-Quran, akan tetapi menampilkan corak lain yang berorientasi kepada corak baru yaitu; suatu corak tafsir yang menitikberatkan penjelasan-penjelasan nash-nash al-Quran dari segi ketelitian redaksinya, kemudian membentuk suatu pengertian yang menjadi tujuan pokoknya dan selanjutnya dikaitkan dengan persoalan-persoalan kehidupan kemasyarakatan.[2]
Diantara prinsip Muhammad „Abduh dalam menafsirkan ayat adalah, al-Quran menjadi pokok. Kepada al-Quran didasarkan segala mazhab dan aliran keagamaan, bukannya mazhab-mazhab dan aliran yang menjadi pokok, dan ayat-ayat al-Quran hanya dijadikan pendukung mazhab-mazhab tersebut. [3]
Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, Muhammad „Abduh mempunyai beberapa prinsip pokok. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.                      Menganggap setiap surat dalam al-Quran sebagai suatu kesatuan ayat-ayat yang serasi. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam memahami arti ayat al-Quran. Dengan cara ini keduanya bermaksud membantah kritikan-kritikan para orientalis yang mencela susunan ayat-ayat al-Quran yang mereka anggap bercampur baur, sebab tidak disusun menurut topik-topik tertentu.[4] Disamping itu keduanya bermaksud menolak cara penafsiran yang ditempuh para mufassir terdahulu yang memisahkan antara satu ayat yang lain. Sebagai contoh dapat dikemukakan penafsiran beliau menyangkut firman Allah ayat 1-2 dari surat
2.                      Ayat-ayat al-Quran bersifat umum. Inti dari prinsip ini adalah bahwa kandungan dan petunjuk al-Quran bersifat umum dan berkelanjutan terus sampai hari kemudian. Ajaran-ajaranya, janji dan ancamanya, serta berita baik dan buruknya, tidak ditunjukkan pada perseorangan atau induvidu-induvidu tertentu tapi bersifat universal.[5]
3.                      Al-Quran adalah sumber aqidah dan syariat agama Islam. Dalam hal ini ‘Abduh mengatakan: “saya ingin al-Quran menjadi pokok, yang kepadanya disadarkan segala mazhab dan pandangan keagamaan, bukannya mazhab-mazhab tersebut menjadi pokok, dan ayat-ayat al-Quran hanya menjadi pendukung untuk Mazhab-mashab tersebut.[6]
4.                      Pengunaan akal yang bebas dalam memahami ayat-ayat al-Quran. Bertitik tolak dari perinsip ini keduanya berkeyakinan bahwa akal dan wahyu adalah alat dan sumber untuk mendapatkan petunjuk, dengan demikian maka pengertian ayat-ayat al-quran harus sejalan dengan akal pikiran manusia, dan jika terjadi perbedaan antara wahyu dan akal, maka itu akibat dari pemikiran-pemikiran sendiri yang sebelumnya telah memiliki pendapat atau ide-ide tertentu, yang kemudian diusahakan untuk disesuaikan dengan pengertian ayat-ayat al-quran. Jadi hakikatnya bukan bersifat akal dan wahyu yang berbeda, tetapi pemikiran yang memiliki latar belakang tertentu itulah yang betrbeda dengan ayat-ayat al-Quran[7]
5.                      Memerangi dan memberantas taklid Prinsip ini erat hubungannya dengan perinsip ketiga diatas seperti diketahui bahwa  Abduh dalam rangka pembaharuannya untuk memberantas taklid, dan membuka pintu ijtihad yang selebar-lebarnya untuk memberi semangat dinamis terhadap perkembangan Islam dalam seluruh aspeknya. Bahkan  Abduh sendiri mengatakan bahwa tema pokok dari dakwahnya adalah tertuju pada dua hal yaitu : a). pembebasan akal dari belenggu taklid, b). Pembaharuan dan perbaikan-perbaikan uslub-uslub bahasa Arab, baik yang digunakan dalam bahasa resmi maupun yang dipraktekkan dalam komunikasi Masyarakat umum.[8]
6.                      Mendorong penelitian ilmiah dan penalaran, serta menerapkan methode ilmiah, dan hasil penemuan ilmu pengetahuan di masanya dijadikan dasar argumen dalam menafsirkan al- .Quran Salah-satu teori ilmiyah yang dianut  Abduh dan Ridha adalah teori perkembangan dan evolusi manusia. Teori ini jelas pengaruhnya ketika menafsirkan qissah penciptaan Adam seperti terurai diatas. Dalam kaitan ini keduanya tidak menerima pandangan jumhur ulama  bahwa  Adam adalah manusia yang pertama. Alasanya ialah karena hal tersebut sejalan dengan ide perkembangan dan evolusi manusia, oleh karena itu menurut keduanya ayat yang menegaskan tentang hal diatas harus  di Takwil[9]

C.    Analisis tentang Pemikiran Muhammad Abduh

Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh pembaharu  dalam islam, kontribusi beliau sangat luar biasa terhadap Islam sehingga gagasan-gagasan beliau sangat  berpengaruh terhadap kemajuan islam, beliau sangat perihatin terhadap keterpurukan dan kettertinggalan umat islam dari berbagai hal terutama dalam hal pendidikan. Sehingga dalam pembaharuannya beliau mempunyai beberapa konsep untuk mengembalikan ketrepurukan umat islam terhadap pendidikan dan pengetahuan, seperti :

Ø  Tujuan pendidikan
Dalam bagian ini beliau menganjurkan agar semua umat Isalm mulai dari kalangan bawah seperti petani sampai kalangan atas seperti gubernur untuk belajar. Dalam pembaharuanya, Beliau selalu menghubungkan tujuan yang satu dengan yang lainya Baik tujuan akhir pendidikan maupun tujuan intitusional. Sehingga hal itu sangat menunjang pendidikan umat islam. Dalam pembaharuan beliau , beliau merancang suatu tujuan yang baru sedangkan hal tersebut sangat baru pada waktu itu. Tujuan pendidikan agama yang berorientasi pada pencapaian kebahagiaan akhirat pendidikan jiwa diubah dengan orientassinya kepada pencapaian kabahagiaan didunia melalui pendidikan akal.
Beliau lebih mengutamakan pendidikan akal bagi umat islam dan khususnya pada anak didik. Beliau beranggapan bahwa dengan peningkatan daya akal merupakan salah satu budi bekerti yang dijadikan dasar dan sumber kehidupan serta kebahagiaan bangsa, selain itu beliau juga menselaraskan antara pendidikan akal dengan pendidikan jiwa sebab hal itu yang akan menselaraskan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ø  Kurukulum pendidikan
 Dalam hal ini Beliau merumuskan kurikulum berdasarkan tingkatan-tingkatan, yaitu tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Pengorganisasian didasarkan pada pembagian manusia sesuai dengan lapangan pekerjaan yang akan mereka geluti. Berdasarkan lapangan kerja tersebut ia mencoba merencanakan kurikulum pendidikan pada setiap tingkat pendidikan tertentu, agar setelah anak didik selesai mengikuti jenjang pendidikan tersebut ia dapat melaksanakann tugasnya sesuai dengan tuntutan agama Islam dan perkembangan zaman.
Dalam konsep ini beliau lebih mengutamakan pelajaran tentang ketahuidan, sebab beliau beranggapan bahwa para murid tidak akan terguncang akidahnya jikalau para murid ingin menambah pengetahuan yang berkaitan dengan perkembagan zaman.

Ø  Metode pendidikan
Dalam konsep ini beliau mempunyai gagasan untuk lebih meningkatkan keratifitas berfikir para siswa dengan mengunakan metode berdiskusi, sehingga metode ini lebih effektif untuk lebih cepat untuk membuat para siswa lebih cerdas. Dan juga dalam konsep ini beliau lebih megedepankan kualitas guru, sebab kecerdasan murid tergantung dari kulitas ilmu guru, serta beliau lebih mengedepankan kestrukturan dalam koorganisasian pada semua sekolah untuk menunjang kecerdasan siswa. Sihingga siswa dapat bersaing dengan siswa dari kalangan barat.
Dengan kegigihan beliau dalam meningkatkan kualitas pendidikan umat islam, beliau tanpa henti menarapkan hasil pekirannnya keseluruh penjuru umat islam dan selalu melakukan pembaharuan sesuai dengan perubahan zaman serta kebutuhan siswa dalam mencari ilmu. Sehingga siswa tidak akan pernah jenuh dengan metode yang telah diterpkan oleh beliau.

Ø  Penafsiran al-Quran
Dalam konsep ini umat islam dianjurkan untuk berfikir secara mendalam dan diberikan kebebasan berfikir untuk kemajuan umat islam sehingga umat islam terlepas dalam keterpurukan dan kejahiliaan.


[1] . Lihat Jamal Muhammad Ahmed, The Intellectual Origius of Egyptian Nasionalism (London: Oxford Universitas Press, 1960), hal :19-20.

[2] . Karel A. SteenBrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Bulan Bintang, cet. I, 1984, hal. 143-147.
[3] . Muhammad „Abduh, Tafsir Surat al-Fatihah, Dar Wa Makhtabi al-Syaib, t.t.p. hal. 5.
[4] . Abdullah Mahmud Syahadah, Manhaj al-imam Muhammad Abduh fi Tafsir al-Qur’an al-karim, Dar wa matba‟ al-sya‟ab, al-qahirat, 1963, h. 35-36.
[5] . Muhammad Abduh, Tafsir al-Quran al-karim, juz amma Dar wa mathabi’ al-sya’b hal: 60
[6] Muhammad Rasyid Ridha, al-Manar. Juz V hal :119
[7] . Muhammad Rasyid Ridha al-Amanar  jus I hal : 281-284
[8] .Mani’ Abd al -Halim Mahmud, Manahij al-mufassirin Dar al-kitab al-mishri, al-
qahirat, 1978, h. 312.
[9] . Al-Zahabi, Al-tafsir wa al-mufassirun, Juz III, Dar al-kitab al-hadis, al-qahorat,
1962, h. 226.

Penulis : alimuddin al-hakim ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel TOKOH MODERNISASI ISLAM “ SYEKH MUHAMMAD ABDUH” by Alimuddin Al-hakim (Muslim Negarawan) ini dipublish oleh alimuddin al-hakim pada hari Sabtu, 18 Februari 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan TOKOH MODERNISASI ISLAM “ SYEKH MUHAMMAD ABDUH” by Alimuddin Al-hakim (Muslim Negarawan)
 

0 komentar:

Poskan Komentar